Sejarah Panjang Bandung Zoo yang Kini Disegel
Sumber Foto: detikTravel
Detik Kini

Sejarah Panjang Bandung Zoo yang Kini Disegel

Bandung Zoo, yang dikenal dalam bahasa Sunda sebagai 'Derenten', baru-baru ini mengalami pencabutan izin operasional oleh Kementerian Kehutanan pada tanggal 5 Februari 2026. Keputusan ini menambah daftar panjang masalah yang melanda kebun binatang ini, terutama terkait dengan dualisme kepengurusan yang telah terjadi sebelumnya. Saat ini, Bandung Zoo telah disegel dan pengelolaannya, yang dipegang oleh Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), tidak lagi diperbolehkan beroperasi. Pemerintah Kota Bandung mengambil langkah cepat untuk mengamankan aset yang ada di lokasi tersebut, dengan klaim bahwa tanah yang digunakan oleh kebun binatang itu merupakan aset daerah.

Sejarah Bandung Zoo

Bandung Zoo, yang secara resmi didirikan pada 6 Februari 1933 dengan nama Bandoengsch Zoologisch Park, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Pendiri kebun binatang ini adalah W.H. Hooglang, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Bank Dennis. Pendirian Bandung Zoo didorong oleh komunitas Bandung Vooruit, sebuah organisasi yang berfokus pada kemajuan kota Bandung. Dua kebun binatang kecil yang sebelumnya ada di Cimindi dan Dago digabungkan menjadi satu kebun binatang yang lebih besar.

Lokasi Bandung Zoo saat ini dulunya adalah sebuah taman botani yang memiliki koleksi tanaman berkayu keras dan tanaman hias, yang dikenal sebagai Jubileumpark. Terdapat rencana untuk memindahkan kebun binatang ini ke Jatinangor, namun rencana tersebut tidak terwujud.

Asal Usul Nama 'Derenten'

Nomenklatur 'Derenten' berasal dari dialek Sunda yang mengadopsi kata Belanda 'Direntuin', yang berarti kebun binatang. Pada masa penjajahan Jepang, kebun binatang ini mengalami pengelolaan yang buruk. Namun, setelah Indonesia merdeka pada tahun 1948, Bandung Zoo direhabilitasi. Pada tahun 1956, kebun binatang ini berganti nama menjadi Yayasan Margasatwa Tamansari atas prakarsa Raden Ema Bratakusumah, yang juga dikenal sebagai Kebun Binatang Bandung.

Perubahan di Bawah Pengelolaan Raden Ema Bratakoesoema

Selama masa penjajahan Jepang, Bandung Zoo mengalami perubahan signifikan dalam pengelolaannya. Raden Ema Bratakoesoema, seorang tokoh legendaris Sunda, mengambil alih pengelolaan kebun binatang ini. Bagi keluarga Bratakoesoema, tempat ini lebih dari sekadar kebun binatang; menjadi titik kumpul bagi para pejuang Sunda untuk merencanakan perlawanan terhadap penjajah. Pada tahun 1957, Raden Ema mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari untuk menjamin pengelolaan yang berkelanjutan atas lahan yang telah dikuasai oleh keluarga sejak tahun 1930-an berdasarkan kesepakatan lisan.