Lagu-Lagu Kritik Sosial: Suara WNI atas Kekerasan Polisi
Kini News - Kamu lagi marah sama polisi gara-gara pembunuhan siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisal AT di Tual, Maluku? Ini pasti bukan yang pertama? Butuh pelampiasan? Mungkin mendengarkan lagu yang isinya memaki-maki aparat bisa jadi pelampiasan sementara WNI setiap ada kasus semacam ini.
Box & Aronson (2022) dalam jurnal berjudul “ Protest Songs from Indonesia and Australia: A Musicological Comparison ” mengungkapkan, lagu adalah wadah aman untuk menyampaikan kritik sosial. Ketika saluran-saluran resmi tidak berfungsi, bentuk budaya populer, salah satunya musik jadi cara untuk mengekspresikan kebuntuan tersebut.
Lagipula, lagu dibuat berdasarkan keresahan seorang musisi. Saya pernah ngobrol sama salah satu personel Sukatani, Cipoy tentang ini. Duo itu bukan dibentuk untuk mengutarakan kritik sosial dan politik, melainkan keresahan pribadi. Namun, apa di hidup ini yang tidak berkaitan dengan politik?
“Karena sikap politik juga yang nentuin kebijakan, yang akhirnya nentuin berapa harga beras, yang akhirnya nentuin bagaimana kita bisa tidur nyenyak, bagaimana kita bisa makan,” kata Cipoy pada Magdalene seusai tampil di Peringatan ke-19 Aksi Kamisan.
Ini juga berlaku sebaliknya. Sasono (2024) menulis di jurnalnya yang berjudul, “A udiopolitics and Social Movements: Popular Music in Indonesia’s Corrupted Reform Er a”, lagu berisi kritik sosial laku karena sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain, lagu dibuat berdasarkan keresahan musisi dan dikonsumsi karena sesuai dengan keresahan pendengar.
Saat berita tentang pembunuhan yang diduga dilakukan Anggota Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Maluku, Masias Siahaya muncul, saya kembali mengorek lagu-lagu tentang kekerasan aparat. Keresahan yang diabadikan lewat instrumen dan vokal ini cukup mampu mewakilkan isi hati. Berikut enam lagu yang menggambarkan tabiat aparat negara:
Baca juga: Narasi Basi ‘Balap Liar’ Usai Bunuh Warga, Kenapa Polisi Ulangi Pola yang Sama?
Aparat Salah Tangkap – Tashoora
Judulnya sudah menjelaskan tema lagu ini. Bekerja sama dengan LBH Jakarta, band yang terdiri dari tiga orang ini mengeluarkan single bergenre alternative pop. Perkusi yang bersemangat, dan bass, gitar, serta synthesizer yang funky, membalut lirik kritik kepada kelakuan aparat yang salah melakukan penangkapan dan kekerasan.
Diproduksi pada 2020, lagu ini selalu relate dengan kehidupan WNI. Tashoora mempertanyakan, jika aparat seringkali melakukan “ penjemputan berdalih saksi / disiksa sampai mengakui / jual rekayasa kronologi / tangkap dan tahan tanpa bukti / kesalahan berdalih saksi,” siapa yang benar-benar mereka lindungi?
Tashoora kemudian memulai verse kedua dengan sangat apik. Menggunakan kalimat yang cukup populer, band asal Yogyakarta ini membiarkan pendengar mengisi bagian kosong. “ Malas baca jadi…” Mulu saya langsung spontan meneriakan nama salah satu institusi.
Bayar, Bayar, Bayar – Sukatani
Lagu yang pernah hilang dari peredaran ini menggambarkan secara jelas tentang budaya suap aparat, terutama polisi yang mengakar. Mulai dari aspek dalam keseharian, hingga hal-hal besar harus dilakukan dengan membayar polisi.
Cerita tentang “ bayar polisi” sebelum “ mau bikin sim” dan “ketilang di jalan” sudah jadi rahasia umum yang kita dengar atau rasakan sendiri. Begitu juga ketika seorang pejabat dan pengusaha membayar aparat ketika mereka “ mau korupsi”, “gusur rumah”, dan “babat hutan”. Bagaimana tidak? bahkan “ mau jadi polisi / bayar polisi.”
Vokal punk yang menyanyikan lirik simple dan komikal, tetapi sangat nyata ini, mampu membuat pendengar bergoyang, karena dibalut dengan sentuhan new wave yang rumit tetapi tetap sopan di telinga. Sayang sekali, lagu ini sudah jarang dibawakan secara live sejak Sukatani mendapat intimidasi dari, sekali lagi, polisi.
Lencana – Seringai
Seringai tak perlu durasi panjang untuk memotret tabiat aparat negara di Indonesia. Lagu berdurasi kurang dari dua menit ini menjelaskan bagaimana para pemilik lencana melecehkan mereka yang tidak memilikinya. Alih-alih melindungi warga, pemilik lencana malah bergaya dengan senjata dan tunduk pada mereka yang menyalah-gunakan kekuasaan.
dengan suara teriakkan khas hard rock, Arian Arifin Wardiman atau Arian13 melantunkan lirik, “ Kami takkan ikuti langkahmu / Layani mereka yang salah gunakan kekuatan / Siapa yang mereka lindungi / Jelas bukan kita rapatkan barisan.”
Awas Polizei – The Brandals
Memulai lagu ini, band rock The Brandals menggunakan betot bass berdistorsi dan genjreng gitar yang sesekali di mute, menciptakan irama yang catchy ala rock 2000an. Irama gitar yang dimute pun tak bertahan lama. Genjerengan dimainkan secara lepas pada reff pertama dan seterusnya, tanpa menghilangkan nuansa funk.
Kalau kamu suka Red Hot Chilli Pepper, secara musik, Awas Polizei bisa masuk playlist -mu. Dari segi lirik, lagu ini menggambarkan, polisi yang seharusnya melayani dan mengayomi malah dilihat sebagai bahaya. Itu tergambar dari reff catchy dengan lirik plesetan polisi dalam Bahasa Jerman yang direpetisi.
“ Awas polizei! / Oh awas polizei! / Awas polizei! / Oh awas polizei! ”
Suara – Tuan Tigabelas
Tak cuma lagu punk dan rock saja yang isinya mengkritik polah buruk aparat, rap juga cocok untuk menggambarkan kemuakan semacam ini. Rapper dari Jakarta Barat, Muhammad Syaifullah atau Tuan TigaBelas memang tidak hanya membicarakan kekerasan aparat di lagu Suara.
Ia membicarakan saluran suara yang mampet. Selain karena DPR yang tidak mewakili kebutuhan masyarakat, suara rakyat tidak tersalur karena dibabat habis kekerasan aparat setiap protes. Dengan beat dan flow santai, serta kemampuan menceritakan pengalaman personal, Tuan TigaBelas membedah permulaan kekerasan aparat saat masyarakat protes.
“ Kami protes bukan berarti kami kufur / Tapi kenapa kejahatan ini terstruktur / Mereka beli senjata pukul kami mundur / Sedang saudara ku bisa makan saja sudah syukur.” lalu di verse selanjutnya ia melanjutkan, “ Kami teriak hingga jatuh air mata / Tapi kau lemparkan kami gas air mata.”
Lirik itu mengingatkan saya pada setiap pengalaman meliput aksi. Mata-mata merah peserta aksi yang lari ke belakang beberapa detik setelah suara letusan menguap menyesakan udara. Padahal, sebelum gas air mata itu sampai ke tanah, beberapa dari mereka sudah menangisi kemiskinan struktural yang harus ditelan setiap hari.
Mungkin masih banyak lagu bertema kekerasan aparat yang tidak saya sebutkan, mengingat kita hidup di Indonesia. Artikel ini bisa tidak selesai kamu baca dua hari kalau semuanya saya masukkan.
Dengan malu-malu saya akan mengakui, saya pernah menulis lirik tentang kekerasan aparat bersenjata. Saat itu, salah satu mahasiswa di kampus saya dari Papua meninggal di tangan aparat.
Saya potret keresahan itu dengan lirik:




