Transformasi Perbankan Digital: Menuju Era Embedded Banking dan Headless Bank
Sumber Foto: IDNFinancials
Teknologi

Transformasi Perbankan Digital: Menuju Era Embedded Banking dan Headless Bank

JAKARTA – Industri bank digital terus tumbuh di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik pertumbuhan itu, terdapat ceruk potensi yang masih jarang tersentuh: embedded banking.

Berdasarkan data Market Research Indonesia, sekitar 31% populasi Indonesia aktif menggunakan layanan bank digital pada 2022. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 39% atau 75 juta nasabah pada 2026.

Potensi besar ini mendorong banyak pihak untuk berinovasi melampaui sekadar digitalisasi layanan. Salah satunya adalah audax, digital banking enabler yang lahir dari Standard Chartered pada 2022.

Sebagai penyedia layanan transformasi digital end-to-end, audax membantu bank eksisting meluncurkan produk digital banking mereka.

Meskipun Indonesia kini sudah memiliki lusinan bank digital, Mike Breen, Chief Commercial Officer audax, meyakini bahwa peran digitalisasi masih sangat besar untuk mendorong kemajuan industri perbankan dan keuangan.

“Digitalisasi, bukan hanya lewat bank digital, namun juga digitalisasi akses terhadap sistem [perbankan dan keuangan] sangat penting, karena akan menurunkan biaya dan mengurangi hambatan masuk,” imbuhnya dalam wawancara dengan IDNFinancials.com.

Mike menilai, ke depan, fokus industri Indonesia harus mengarah pada digitalisasi akses ke layanan keuangan.

Konsep ini berkaitan erat dengan Bank-as-a-Service (BaaS), yakni infrastruktur back-end yang memungkinkan penyedia aplikasi non-keuangan untuk menghadirkan layanan perbankan bagi penggunanya—melahirkan apa yang disebut embedded banking.

Menurut Mike, model BaaS dan embedded banking dapat menjadi solusi bagi bank untuk menekan biaya promosi dan akuisisi nasabah, terutama di segmen ritel yang memiliki margin kecil.

“Bank dapat bekerja sama dengan, misalnya, pelaku industri e-commerce, pemilik aset digital skala besar, atau asosiasi komunitas untuk membawa end-user ke dalam sistem keuangan,” jelasnya.

Namun, beberapa embedded banking biasanya terintegrasi secara eksklusif—seperti layanan perbankan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dalam ekosistem Gojek—atau hanya berada dalam satu naungan grup, seperti SeaBank dalam Shopee.

Di sisi lain, terdapat salah satu bank digital Indonesia yang juga memposisikan diri sebagai BaaS/embedded banking provider untuk berbagai mitranya, yaitu PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR).

Melalui lini bisnis ini, Amar Bank menyediakan akses produk pinjaman, tabungan, hingga pembayaran langsung di aplikasi para mitra, tanpa perlu berpindah platform.

“Layanan ini juga membantu menambah frekuensi penggunaan aplikasi dan engagement dari pengguna mereka, mendatangkan tambahan pendapatan serta customer loyalty,” jelas Kevin Kane, CTO AMAR, dalam wawancara dengan IDNFinancials.com.

Masa depan digital dan embedded banking: headless bank?

Dalam jangka panjang, Mike memperkirakan evolusi digital banking akan mendorong bank menjadi “low-cost manufacturer” — entitas yang mengelola transaksi dan kepatuhan regulasi, namun tidak lagi berinteraksi langsung dengan pelanggan.

“Bank akan menjadi headless, tanpa jenama. Mereka menyediakan neraca keuangan, regulasi, kepatuhan, dan teknologi, sementara pihak lain mendistribusikan produknya,” ujar Mike.

Ia menambahkan, tren ini didorong oleh perilaku pengguna digital, terutama generasi muda, yang memilih layanan keuangan berdasarkan kemudahan dan kecepatan akses, bukan loyalitas terhadap merek.

“Di sinilah peran besar bank digital—bank digital murni yang bersifat greenfield, tanpa cabang fisik—menyediakan pengalaman pengguna yang sangat mudah, dan membangun reputasi di kalangan calon nasabah masa depannya,” tegas Mike.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pelaku industri lainnya. Kevin Kane menilai konsep headless bank lebih relevan di pasar yang memiliki tingkat kepercayaan rendah terhadap lembaga perbankan.

“Di Indonesia, lanskapnya agak berbeda. Tingkat kepercayaan publik terhadap core perbankan lebih tinggi dibandingkan negara lain—bahkan Edelman Trust Barometer 2023 mencatat sekitar 81%,” ujarnya.

Meski peluang perkembangan headless bank di Indonesia dinilai masih kecil, baik AMAR maupun audax sepakat bahwa masa depan perbankan digital harus mengedepankan kemudahan akses dan relevansi bagi pengguna.

“Berikan kemudahan bagi pengguna mengakses produk tepat di saat mereka membutuhkan,” ujar Mike.

Senada dengan hal itu, AMAR juga berfokus pada kemudahan akses pengguna—alih-alih menjanjikan bunga deposito tinggi seperti yang dipromosikan banyak bank digital.

“Yang lebih penting adalah bagaimana bank membangun kepercayaan, menghadirkan akses yang mudah, serta memberikan pengalaman yang relevan bagi nasabah,” pungkas manajemen AMAR. (ZH)