Kenaikan Harga RAM DDR5 64GB Tembus Angka USD 1.000, Lebih Mahal dari MacBook Air
Jakarta - Pilihan dalam memilih RAM kini tidak lagi sekadar tentang kapasitas dan kecepatan. Pengguna harus mempertimbangkan dampak harga yang terus melambung, yang dapat membebani anggaran mereka.
Fenomena yang dikenal sebagai "cipflasi" atau inflasi chip kini melanda pasar global, dan dampaknya sangat terasa di sektor memori komputer. Data terbaru dari situs pelacak harga PCPartPicker menunjukkan bahwa harga kit RAM DDR5 berkapasitas 64 GB telah mencapai angka USD 1.000 atau sekitar Rp 16 juta.
Menariknya, harga ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan harga laptop baru, seperti MacBook Air kelas entry-level.
Lonjakan Harga yang Drastis
Seiring berjalannya waktu, harga RAM DDR5 64 GB mengalami lonjakan yang signifikan. Pada bulan Agustus 2025, kit RAM tersebut masih tersedia di bawah USD 250 atau sekitar Rp 4 juta. Namun, dalam enam bulan terakhir, harga tersebut meloncat sekitar 300%.
Bahkan sebulan yang lalu, harga rata-rata berada di kisaran USD 600-700 (Rp 9,6 juta - Rp 11,2 juta). Meskipun angka tersebut sudah cukup tinggi, namun belum mencapai angka empat digit.
Lonjakan harga yang cepat ini terjadi dalam beberapa minggu terakhir, dengan sekitar 50 persen kenaikan terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Grafik pelacakan harga di PCPartPicker menunjukkan perubahan yang sangat dramatis, dengan periode stabilitas bertahun-tahun terkompresi menjadi garis tipis diikuti oleh lonjakan tajam di akhir grafik.
Penyebab Kenaikan
Para pengamat teknologi mungkin langsung mengaitkan fenomena ini dengan permintaan tinggi dari kecerdasan buatan (AI), dan hal ini memang ada benarnya. Permintaan yang besar dari pusat data AI menjadi salah satu faktor utama. Namun, ada beberapa faktor lain yang memperburuk situasi ini.
Ketidakmampuan produksi DRAM global untuk memenuhi lonjakan permintaan menjadi penyebab utama. Produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron kini lebih memilih untuk memproduksi memori yang ditujukan untuk server AI yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.
Akibatnya, lini produksi untuk memori generasi lama dihentikan, sementara kapasitas produksi untuk generasi baru lebih diprioritaskan bagi pelanggan korporat. Laporan dari Vietnam's Finance mengungkapkan bahwa sektor AI kini diperkirakan menyerap sekitar 53 persen dari total kapasitas produksi DRAM dunia setiap bulannya, membuat pasar RAM konsumen menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi harga.




