Kekerasan Seksual dan Pembunuhan Massal di Sudan Pasca Jatuhnya El-Fasher
Sumber Foto: detikNews
Detik Kini

Kekerasan Seksual dan Pembunuhan Massal di Sudan Pasca Jatuhnya El-Fasher

Khartoum - Kejadian memilukan terjadi di Sudan setelah kota El-Fasher jatuh ke tangan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pada 26 Oktober 2025. Amira, seorang ibu yang melarikan diri dari kota tersebut, menceritakan pengalaman traumatisnya saat menyaksikan pemerkosaan massal yang terjadi di depannya. Setiap hari, ia terbangun dengan rasa gemetar, dihantui oleh kekerasan yang ia saksikan.

El-Fasher, yang merupakan benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur barat, telah mengalami pengepungan selama 18 bulan yang ditandai dengan kelaparan dan pengeboman. Sejak RSF mengambil alih, laporan tentang pembunuhan, kekerasan seksual, dan serangan terhadap pekerja kemanusiaan meningkat drastis. Amira, berbicara dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh kelompok kampanye Avaaz, menggambarkan kekejaman yang terjadi, termasuk pemerkosaan bergiliran dan tindakan keji lainnya.

Kondisi Memprihatinkan di El-Fasher

Dalam pengakuannya, Amira menyebutkan bahwa ia ditahan selama dua hari karena tidak mampu membayar para petempur RSF untuk perjalanan yang aman. Ia menggambarkan situasi mengerikan di mana mereka yang tidak membayar akan kehilangan akses terhadap makanan dan air, serta hak untuk pergi. Dalam situasi tersebut, pemerkosaan menjadi hal yang umum, dengan penyerangan terjadi pada malam hari.

Amira menambahkan, "Anda akan tertidur dan mereka akan datang dan memperkosa Anda. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, orang-orang yang tidak mampu membayar, dan para petempur mengambil anak perempuan mereka sebagai gantinya." Pernyataan ini menambah deretan laporan kekerasan seksual yang mengkhawatirkan di kawasan tersebut.

Data Kekerasan Seksual Meningkat

Menteri Negara untuk Kesejahteraan Sosial Sudan, Sulimah Ishaq, menyatakan bahwa setidaknya 300 perempuan tewas pada hari jatuhnya El-Fasher ke tangan RSF, beberapa di antaranya mengalami kekerasan seksual. Sementara itu, kelompok kemanusiaan independen, General Coordination for Displaced People and Refugees di Darfur, melaporkan 150 kasus kekerasan seksual sejak peristiwa tersebut hingga 1 November 2025.

Pekan lalu, laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengonfirmasi bahwa 25 perempuan diperkosa bergiliran di tempat penampungan pengungsi dekat Universitas El-Fasher saat pasukan RSF memasuki lokasi tersebut. Juru bicara kantor HAM PBB, Seif Magango, mengungkapkan bahwa kekerasan seksual ini terjadi di bawah ancaman senjata api.

Situasi di Sudan, khususnya di El-Fasher, menunjukkan perlunya perhatian dunia internasional terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi. Laporan-laporan ini menyoroti perlunya upaya segera untuk melindungi warga sipil dan mengatasi kekerasan yang terus meningkat.