Dua Alumni UMM Ciptakan Empat Lagu Religi Berbahasa Kedang Menyambut Ramadhan
LEMBATA, DELIKNTT.COM – Menyambut bulan suci Ramadhan 2026, dua alumni magister dari Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan karya inspiratif lewat empat lagu religi berbahasa Kedang yang kini mulai viral di media sosial. Muh. Rifai Aprianus Mukin, M.Pd dan Sudarjo Abd. Hamid, M.Pd dikenal sebagai sosok pendidik yang tak pernah berhenti berkarya. Selain aktif di dunia literasi, keduanya juga produktif menciptakan lagu lintas genre. Kali ini, mereka menghadirkan karya religi yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal masyarakat Kedang.
Rifai yang berasal dari Nagi Larantuka mengaku memiliki kedekatan emosional dengan bahasa Kedang. Puluhan tahun mengajar dan pernah menjabat sebagai kepala madrasah di wilayah Kedang membuatnya akrab dengan bahasa tersebut.
Dalam proyek lagu religi ini, Rifai berperan sebagai arranger atau pengatur instrumen untuk empat lagu berbahasa Kedang. Ia menata komposisi musik dengan penuh ketelitian agar menyatu dengan kekuatan lirik.
Sementara itu, Sudarjo bertindak sebagai komposer. Uraian lirik yang ia tulis dinilai begitu menyentuh dan dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Kedang, sehingga cepat mendapat respons positif dari warganet.
Empat lagu yang telah beredar tersebut berjudul: “Ula Laleng” (Bulan Ramadhan) “Ula Laleng Adan Hawar” (Hadirnya Bulan Ramadhan) “Ino E’i Wowo Tokong” (Ibu Aku Tak Bersuara) “Sahor Pulung Ino Tokong” (Sahur Tiada Ibu) Keempat lagu religi ini lahir dari perenungan mendalam dan menjadi momen reflektif dalam menyongsong bulan penuh berkah.
Saat ditemui awak media pada Jumat (20/02/2026), Rifai mengungkapkan bahwa beberapa lagu tersebut mulai viral di media sosial.
“Beberapa lirik lagu sahabatku Sudarjo yang saat ini lumayan viral di medsos. Di akun saya dalam satu hari mencapai enam ratus penonton. Saya kira liriknya sangat kental dengan kehidupan masyarakat Kedang,” ujar Rifai.
Menurutnya, karena lirik-lirik tersebut sangat khas daerah Kedang, ia harus bekerja ekstra dalam menentukan gaya musik yang tepat.
“Tidak hanya sekali untuk mendapatkan style musik yang sesuai. Kadang guitar melodinya masuk, tapi tambur drumnya kurang enak di telinga. Kita ganti lagi sampai menemukan kesesuaian antara lirik lagu dan style musik,” jelasnya.
Dalam proses produksi, Rifai mengaku masih menggunakan aplikasi musik versi standar atau gratis dengan kapasitas terbatas.
“Apk musik yang digunakan pun masih standar atau gratisan, tentu kapasitasnya sangat kecil. Paling lima kali upload lirik lagu, setelahnya harus ganti email yang lain,” katanya sambil tertawa. Ia juga menegaskan bahwa hingga kini belum terpikir untuk menggunakan aplikasi premium.
“Belum berpikir untuk memiliki apk yang berbayar atau premium. Karena kegiatan itu hanya iseng-iseng saja, walau cukup menyita waktu. Hahaha,” tambahnya.
Meski demikian, Rifai menilai aplikasi musik yang tersedia saat ini memberikan ruang besar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan bakat seni.
“Apk musik ini memberikan ruang bagi mereka yang berbakat juga berminat mengembangkan potensi seni. Ada banyak apk yang bisa dicoba gratis maupun premium,” tutup Rifai.
Rifai dan Sudarjo memang dikenal sebagai dua sahabat karib. Rifai saat ini menjabat sebagai pengawas PAI di sekolah, sedangkan Sudarjo merupakan guru PAI binaannya. Keduanya juga menuntaskan pendidikan magister di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun yang sama, yang semakin menguatkan kolaborasi mereka dalam dunia pendidikan dan seni.




