Warisan John Tobing: Lagu 'Darah Juang' untuk Anak Bangsa
Sumber Foto: Liputan6.com
Hiburan

Warisan John Tobing: Lagu 'Darah Juang' untuk Anak Bangsa

Kini News - Liputan6.com, Jakarta - Keluarga almarhum Johnsony Maharsak Lumban Tobing, yang lebih dikenal sebagai John Tobing, hanya berharap lagu perjuangan 'Darah Juang' tetap dinyanyikan di mana saja dan tidak akan menuntut royalti. Menurut keluarga, John Tobing ingin warisannya tersebut dikenang oleh seluruh anak bangsa. Tanpa perlu disibukkan urusan royalti.

“Sesuai harapan Bapak yang disematkan di lagu Darah Juang tersebut, ia ingin lagu tersebut menggema di seluruh pelosok Nusantara dan Bapak hanya ingin dikenang sebagai pencipta lagu yang membekas bagi perjuangan bangsa,” kata salah satu putra John Tobing, Gopas Kibar Syang Proudy (18), saat ditemui di rumah persemayaman Rumah Duka Arimatea RS Bethesda, Kamis (26/2/2026). Rencana jenazah John Tobing disemayamkan hingga Sabtu (28/2/2026) sebelum dimakamkan di TPU Madurejo, Prambanan, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurutnya, John beberapa tahun terakhir berjuang melawan diabetes dan stroke. Sempat dirawat dua bulan di RS Panti Rini sejak 29 November 2025.

"Lalu balik ke rumah pada 28 Januari 2026 kemarin,” jelas Gopas.

Setelah sempat dirawat di rumah, mendiang John kembali dilarikan lagi ke RS Hermina pada 8 Februari dan diperbolehkan pulang beberapa hari berikutnya. Terakhir pada Rabu (25/2/2026), John tidak sadarkan diri yang lantas kemudian dirawat intensif di RSA UGM hingga meninggal dunia.

“Saat dikabarkan henti jantung, kami sekeluarga tengah di rumah karena bapak tidak bisa ditunggui sebab dirawat di ICU. Bapak dinyatakan meninggal pukul 08.45 WIB,” katanya.

Kagum Sosok Ayahnya

Gopas menceritakan hari-hari terakhir bapaknya yang sangat dia idolakan. Sepanjang menemani di RS, ia bertemu dengan rekan-rekan ayahnya yang membesuk. Mereka bercerita perjuangan John, terlebih lewat lagu ciptaannya, Darah Juang.

"Beliau tidak pernah padam memikirkan nasib bangsa ini. Tapi saya hanya bisa bilang, Bapak tidak usah berjuang lagi karena Bapak orangnya pantang menyerah,” katanya.

Sebelumnya, Gopas menganggap bapaknya sebatas teman ngobrol terbaik dan teman bernyanyi kala ngopi bareng di pagi serta malam hari. Tetapi dari banyak cerita para pembesuk, dia semakin kagum karena ayahnya sosok rendah hati dan senang bercerita dengan siapapun.

“Mungkin yang membuat saya sedih, terakhir itu bapak bilangnya ingin bebas. Dia ingin segera sembuh dan bisa seperti dulu lagi" katanya.

Selama John disemayamkan,akan diadakan doa bersama oleh gereja. Lalu usai doa di Jumat malam, akan diselenggarakan tradisi Martonggo Raja, yakni rapat keluarga untuk membahas persiapan jenazah, pembagian tugas, dan pengaturan adat agar berjalan lancar.