Varian Nimbus COVID-19 Menyebar di 13 Negara Bagian AS dan Meningkat Secara Global
Sumber Foto: Liputan6.com
Terkini Cepat

Varian Nimbus COVID-19 Menyebar di 13 Negara Bagian AS dan Meningkat Secara Global

Varian baru COVID-19 yang dikenal dengan kode NB.1.8.1 atau varian Nimbus kini menjadi sorotan di seluruh dunia. Varian ini telah terdeteksi di 13 negara bagian di Amerika Serikat dan dilaporkan oleh 22 negara ke database GISAID, menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per 7 Juni 2025, varian Nimbus menyumbang sekitar 37 persen dari total kasus COVID-19 di AS. Ini menjadikannya sebagai varian kedua terbanyak setelah LP.8.1, yang mendominasi 38 persen kasus.

Penyebaran Varian Nimbus

Sejak pertama kali terdeteksi melalui program skrining bandara pada akhir Maret, varian Nimbus telah menyebar ke negara bagian berikut:

  • Arizona
  • California
  • New Jersey
  • New York
  • Hawaii
  • Illinois
  • Maryland
  • Massachusetts
  • Ohio
  • Rhode Island
  • Vermont
  • Virginia
  • Washington

Mutasi dalam varian ini diyakini membuatnya lebih mudah menular. Salah satu mutasi kunci terletak pada spike protein yang memengaruhi keterikatan virus dengan reseptor dalam tubuh manusia.

Analisis Genomik Varian Nimbus

Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, menjelaskan bahwa varian NB.1.8.1 memiliki hubungan genomik dengan varian XDV.1.5.1 dan JN.1. Varian Nimbus mengandung beberapa mutasi pada spike protein, termasuk T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I. Menurut Prof. Tjandra, mutasi pada posisi spike 445 meningkatkan keterikatan dengan reseptor hACE2, sehingga varian ini lebih mudah menular dan kemungkinan berkontribusi terhadap peningkatan kasus di berbagai negara.

Hingga 18 Mei 2025, sebanyak 518 sekuen varian NB.1.8.1 telah dilaporkan ke GISAID. Data epidemiologi menunjukkan bahwa varian ini mencakup 10,7 persen dari data global, meningkat dari 2,5 persen empat minggu sebelumnya. Peningkatan ini terlihat di Asia, Eropa, dan Amerika.

Gejala dan Risiko Varian Nimbus

Menurut laman World Health Network, terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan terkait varian Nimbus:

  • Varian ini lebih mudah menular dibandingkan dengan varian sebelumnya.
  • Gejala yang muncul dapat berupa nyeri tenggorokan yang parah, lemas, batuk ringan, demam, dan nyeri otot.
  • Tingkat keparahan penyakit belum dapat dipastikan dan perlu waktu beberapa minggu untuk mendapatkan data klinis yang lebih lengkap.
  • Munculnya varian ini di musim panas menunjukkan bahwa COVID-19 bukan hanya penyakit musiman.

Dr. Albert Ko, Profesor Kesehatan Masyarakat di Yale School of Public Health, menyatakan bahwa mutasi pada varian ini tampaknya memperkuat kemampuannya dalam mengikat sel manusia, sehingga lebih mudah menular.

Sementara itu, Dr. Andy Pekosz dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengingatkan bahwa meskipun tingkat kekebalan masyarakat AS tinggi, kekebalan tersebut dapat menurun seiring waktu. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.

Antisipasi di Indonesia

Mengingat tren peningkatan kasus secara global, Indonesia disarankan untuk tidak lengah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan diharapkan memperkuat pelacakan, meningkatkan kapasitas laboratorium Whole Genome Sequencing, serta melakukan edukasi publik mengenai gejala dan pentingnya vaksinasi. Prof. Tjandra juga menekankan bahwa lonjakan kasus dapat terjadi tanpa terdeteksi jika tidak ada surveilans aktif. "Dengan lonjakan varian di negara lain, kita perlu bersiap dari sekarang," tambahnya.