Risiko Nuklir Meningkat Pasca Berakhirnya Perjanjian New START
Sumber Foto: ANTARA News
Internasional

Risiko Nuklir Meningkat Pasca Berakhirnya Perjanjian New START

waktu baca 1 menit

PBB/New York (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai risiko penggunaan senjata nuklir saat ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, RIA Novosti melaporkan pada Kamis (5/2).

Ia mengatakan hal itu dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) antara Rusia dan Amerika Serikat berakhir pada Rabu.

Guterres sangat menyayangkan berakhirnya pencapaian yang telah dibangun selama puluhan tahun, yang disebutnya terjadi "pada waktu terburuk" karena ketegangan geopolitik global sedang memuncak.

"Namun, bahkan di tengah ketidakpastian ini, kita harus mencari harapan. Ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang dan menciptakan sistem pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berkembang pesat," katanya.

Guterres mengatakan dirinya menyambut baik penegasan dari AS dan Rusia tentang pemahaman mereka terhadap dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir dan perlunya mencegah kembalinya dunia pada proliferasi nuklir tanpa kendali.

New START adalah perjanjian terakhir tentang pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir jarak jauh yang boleh mereka miliki. Perjanjian itu resmi berlaku pada 5 Februari 2011.

Sumber: Sputnik

Baca juga: PBB minta Rusia, AS kembali berdialog soal pengurangan senjata nuklir

Baca juga: Perjanjian dengan AS berakhir, Rusia isyaratkan langkah nuklir baru

Penerjemah: Katriana

Editor: Anton Santoso

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.