Mayoritas Santri Amanatul Ummah Memiliki Aspirasi Menjadi Konglomerat
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kembali memberikan taushiah di hadapan para wali santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Acara tersebut berlangsung di Amanatul Ummah Surabaya, di mana ribuan wali santri yang datang dari berbagai daerah berkumpul di aula santri putra yang terletak di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya.
Pada kesempatan ini, Kiai Asep didampingi oleh Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk, seorang ulama asal Mesir yang mengajar di Amanatul Ummah. Sebelumnya, pada sore hari yang sama, Kiai Asep juga memberikan wejangan di halaman SMA Unggulan Amanatul Ummah di lokasi yang sama.
Pondok Pesantren Amanatul Ummah mengadakan pembagian rapot dan liburan dalam dua hari berturut-turut, yaitu pada Kamis (1/1/2026) untuk santri di Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, dan pada Jumat (2/1/2026) untuk santri di Amanatul Ummah Surabaya.
Dalam taushiah yang disampaikan di kedua lokasi tersebut, Kiai Asep mengungkapkan gagasan besar mengenai peran pesantren dalam sejarah pergerakan ulama untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia menekankan pentingnya persatuan yang digagas oleh Kiai Hasyim Asy'ari, yang merupakan tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan.
"Orientasi pesantren pada saat itu adalah untuk memerdekakan bangsa Indonesia, dengan mengajarkan Islam yang inklusif dan mengedepankan persatuan sebagai syarat utama untuk meraih kemerdekaan," ujarnya.
Kiai Asep juga menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, ada empat pilar yang harus diperkuat, yaitu ilmu para ulama, kepemimpinan yang adil, kedermawanan orang kaya, dan doa dari orang-orang yang kurang mampu. Hadits yang menginspirasi visi dan misi Amanatul Ummah ini menggambarkan pentingnya kolaborasi antara berbagai komponen bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan.
Amanatul Ummah memiliki visi untuk mencetak generasi yang unggul, cerdas, dan berakhlak mulia. Misi lembaga ini termasuk melaksanakan sistem pendidikan yang ketat dan bertanggung jawab, serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin, ulama, profesional, atau konglomerat yang bermanfaat bagi umat dan negara.
Kiai Asep mengungkapkan bahwa dari empat komponen bangsa yang diharapkan, mayoritas santri menunjukkan ketertarikan terbesar untuk menjadi konglomerat. "Ketika saya bertanya siapa yang ingin menjadi ulama besar atau pemimpin, jumlahnya tidak banyak. Namun, ketika saya menanyakan siapa yang ingin menjadi konglomerat, hampir semua santri mengacungkan tangan," ungkapnya dengan tawa.
Ia menekankan bahwa aspirasi untuk menjadi konglomerat tidaklah masalah, asalkan individu tersebut dapat berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. "Yang penting adalah bagaimana mereka bisa berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat," tutup Kiai Asep.




