Kepercayaan Sebagai Kunci Reputasi Artajasa di Era Digital
Kepercayaan (trust) sebagai fondasi mutlak (ibarat SIM/lisensi) bagi Artajasa, perusahaan sistem pembayaran, untuk beroperasi dan membangun reputasi.
YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Kepercayaan (trust) menjadi fondasi utama bagi perusahaan yang bergerak di industri sistem pembayaran. Tanpa kepercayaan, sebuah perusahaan tidak memiliki legitimasi untuk beroperasi, apalagi mengelola transaksi keuangan masyarakat yang sangat sensitif.
Hal tersebut disampaikan oleh Dimas Mulyawan, Corporate Communications Manager PT Artajasa Pembayaran Elektronis, dalam talkshow online MAW Talk episode 68 dengan tema “ Trust is the new currency: Membangun reputasi berkelanjutan di era transparansi publik”, Kamis (28/1) lewat Zoom. Ia mengibaratkan trust seperti Surat Izin Mengemudi (SIM) bagi pengendara kendaraan.
“ Trust itu semacam SIM. Kalau kita naik mobil, kita butuh SIM. Trust di perusahaan adalah sebuah license untuk beroperasi, untuk menjalankan bisnis perusahaan dan menggerakkan seluruh operasionalnya,” ujar Dimas.
Sebagai pengelola sistem pembayaran terbesar di Indonesia, Artajasa menaungi jaringan ATM Bersama yang telah hadir sejak tahun 2000 dan terhubung dengan lebih dari 80.000 ATM di seluruh Indonesia. Dalam ekosistem sebesar itu, kepercayaan menjadi “bahan bakar” utama yang memungkinkan jutaan transaksi berjalan lancar setiap hari.
Di industri ini katanya, kepercayaan sering kali tidak terlihat ketika sistem berjalan normal. Publik jarang menyadari peran pengelola infrastruktur pembayaran selama transaksi berlangsung mulus. Namun, ketika terjadi gangguan sekecil apa pun, trust menjadi sorotan utama.
“ Trust itu adalah bagaikan mata uang yang sangat bernilai. Perlu kehati-hatian karena di industri sistem pembayaran, keandalan teknologi adalah kunci untuk memunculkan kepercayaan publik,” tegasnya.
Trust sebagai Fondasi, Reputasi sebagai Hasil
Menurut Dimas, trust merupakan fondasi, sedangkan reputasi adalah hasil akhir yang terbangun secara organik. Pada awal berdirinya jaringan ATM Bersama, tantangan terbesar adalah meyakinkan berbagai bank untuk bergabung dalam satu sistem interkoneksi. Tanpa kepercayaan, kolaborasi tersebut tidak mungkin terwujud.
Di era digital saat ini, tantangan bergeser ke transaksi merchant dan pembayaran instan. Masyarakat tidak akan memindai kode pembayaran apabila ada sedikit saja keraguan terhadap keamanan dana mereka. Karena itu, tata kelola yang baik dan konsistensi operasional menjadi prasyarat untuk membangun reputasi yang kuat.
Keamanan Siber dan Peran AI
Memasuki era digital, keamanan siber (cybersecurity) menjadi tantangan utama. Ancaman fraud, scam, hingga anomali transaksi harus diantisipasi secara real time.
Artajasa telah memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendeteksi transaksi mencurigakan dalam hitungan detik. Meski demikian, Dimas menegaskan bahwa AI bukan pengganti komunikator manusia. AI berperan sebagai detektor risiko, tetapi membangun empati dan hubungan dengan publik tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Transparansi yang Proporsional
Di tengah tuntutan transparansi, perusahaan sistem pembayaran menghadapi dilema karena mengelola data sensitif. Sehingga, perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi prioritas utama.
Untuk klien korporat, transparansi dilakukan secara langsung melalui penyampaian data performa yang akurat. Sementara untuk publik luas, perusahaan membangun narasi yang kuat tanpa membuka detail teknis yang bersifat rahasia.
“Untuk publik, strategi biasanya bermain di sisi narasi. Pentingnya narasi yang kuat adalah untuk membangun kepercayaan dan pencapaian reputasi yang baik, walaupun tidak perlu terlalu dalam membuka rahasia perusahaan,” jelasnya.
Satu Suara dalam Mengelola Reputasi
Kepercayaan publik juga diperkuat melalui peran pimpinan dan karyawan sebagai representasi nilai perusahaan. Fungsi komunikasi korporat bertindak sebagai “dirijen” yang memastikan seluruh insan perusahaan menyampaikan pesan yang selaras.
“Tim komunikasi bertindak sebagai dirijen, menyediakan panduan untuk para karyawan agar memiliki satu frame yang sama. One Voice, One Vision. Terutama terkait tantangan keamanan, framing-nya harus seragam,” ujarnya.
Dalam situasi krisis, langkah pertama adalah melakukan pemetaan terhadap isu dan persepsi publik. Respons harus berbasis data dan empati agar potensi konflik dapat dikelola dengan baik.
Pada akhirnya, reputasi dibentuk oleh narasi yang konsisten dan didukung realitas operasional yang jujur. “Kepercayaan dibangun secara sistemik, konsisten, dan bertanggung jawab karena reputasi sejatinya dibentuk oleh narasi yang dijaga integritasnya,” pungkas Dimas. (Mutia/ARF)




