Dinas Sosial DIY Respons Cepat Terhadap Kasus Pembuangan Bayi di Sleman
Dinas Sosial (Dinsos) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan respons cepat dalam menangani dua kasus pembuangan bayi yang terjadi di Kabupaten Sleman dalam beberapa hari terakhir. Kepala Dinsos DIY, Endang Patmintarsih, menegaskan komitmen lembaganya untuk memberikan perlindungan sosial serta perawatan medis bagi setiap bayi yang ditemukan.
Menurut Endang, setiap bayi yang dibuang harus dilindungi dan dijaga karena mereka merupakan aset berharga. "Bayi itu adalah aset, harus dilindungi, dan harus dijaga," ujarnya saat dihubungi di Yogyakarta pada Senin.
Kasus pertama terjadi pada Sabtu, 25 Oktober, ketika seorang bayi perempuan ditemukan di Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan. Sehari kemudian, pada Minggu, 26 Oktober, bayi laki-laki juga ditemukan di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak. Kedua bayi tersebut dalam kondisi selamat dan telah menerima perawatan medis yang diperlukan.
Endang menjelaskan bahwa proses penanganan kasus pembuangan bayi dimulai dari laporan masyarakat ke pihak kepolisian, yang kemudian diteruskan kepada Dinas Sosial. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa proses perlindungan berjalan sesuai prosedur dan menghindari potensi kesalahpahaman hukum.
"Begitu dilaporkan ke polisi, baru diteruskan ke Dinas Sosial kabupaten atau kota agar bayi segera mendapat perlindungan. Setelah itu kami di provinsi menerima laporan lanjutannya," tambahnya.
Dinsos DIY juga mengimbau masyarakat agar segera melapor ke pihak kepolisian atau Dinas Sosial terdekat jika menemukan bayi yang ditelantarkan. "Kalau menemukan bayi, jangan diambil sendiri tanpa laporan. Laporkan ke polsek atau polres setempat agar segera ditangani bersama Dinas Sosial," tegas Endang.
Untuk mencegah kejadian serupa, Dinas Sosial terus melakukan sosialisasi dengan melibatkan perangkat desa, praktisi sosial, dan lembaga pendidikan. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak membuang bayi. "Kami siap melindungi dan memberi pendampingan, baik untuk bayinya maupun ibunya yang mengalami tekanan psikologis," katanya.
Proses penanganan setiap kasus pembuangan bayi juga melibatkan aparat kepolisian dan perangkat desa untuk memastikan semua langkah sesuai hukum yang berlaku. Endang menyebut bahwa peningkatan kasus pembuangan bayi dipengaruhi oleh kondisi sosial yang heterogen di DIY, termasuk banyaknya mahasiswa dari luar daerah.
"Kalau saya ditanya, kenapa trennya meningkat? DIY ini kan heterogen sekali, ya, mahasiswa juga banyak di DIY. Banyak kasus yang kita tangani, kita hubungi keluarganya di luar DIY untuk mengurus seperti itu. Karena mereka takut," ungkapnya.
Endang mengekspresikan harapannya agar bayi-bayi yang ditemukan dapat diserahkan kepada pihak berwenang, bukan dibuang. "Saya itu malah senang kalau bayi itu diserahkan, jangan dibuang. Diserahkan ke kami, kemudian dia minta tolong, minta bantuan. Itu yang kami edukasikan ke masyarakat," tutupnya.
Saat ini, kedua kasus pembuangan bayi di Sleman sedang dalam penyelidikan oleh aparat kepolisian, yang tengah memeriksa saksi-saksi dan menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian. Polresta Sleman memastikan bahwa kedua bayi dalam kondisi sehat dan telah mendapatkan perawatan medis yang diperlukan.




