BMKG Serukan Respons Cepat Pemda terhadap Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Jayapura - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah untuk merespon dengan cepat terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan angin kencang. Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, yang menekankan pentingnya peringatan dini cuaca dalam membantu pemda dan masyarakat mengantisipasi risiko bencana.
Faisal menjelaskan bahwa BMKG secara rutin memantau perkembangan sistem cuaca yang mencakup potensi hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, serta risiko banjir dan longsor di berbagai wilayah. Informasi ini disampaikan kepada pemangku kepentingan di pusat maupun daerah untuk membantu mereka dalam mengambil langkah antisipatif.
Sebagai contoh, Pemerintah Kota Tangerang telah menunjukkan kesiapsiagaan yang baik dengan menjadikan peringatan dini BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan. Melalui koordinasi lintas dinas, Pemkot Tangerang melakukan pembersihan saluran air, menyiapkan pompa pengendali banjir, serta memperkuat sistem drainase.
BMKG juga mencatat beberapa bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat sistem cuaca, termasuk Siklon Tropis Senyar. Siklon ini sudah dapat diprediksi sekitar delapan hari sebelum proses pembentukannya, dan peringatan disampaikan pada berbagai interval waktu sebelum kejadian.
Menurut BMKG, meskipun Indonesia bukan wilayah utama siklon tropis, anomali atmosfer dapat menyebabkan cuaca ekstrem. Dalam kasus Siklon Tropis Senyar, interaksi beberapa sistem cuaca menyebabkan hujan lebat berlangsung lebih dari dua hari. Di Pos Langsa Aceh, BMKG mencatat curah hujan mencapai 380 milimeter dalam satu hari, setara dengan rata-rata curah hujan bulanan.
Lembaga Riset Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya penguatan mitigasi risiko bencana, terutama menghadapi potensi siklon tropis di wilayah utara Indonesia. Arcandra Tahar, anggota Board of Experts Prasasti, menyatakan bahwa wilayah Sumatera bagian utara hingga Selat Malaka telah dilintasi siklon tropis dalam 150 tahun terakhir, menunjukkan bahwa kejadian serupa dapat terulang.
Direktur Eksekutif Prasasti, Nila Marita, menyoroti bahwa Indonesia telah memiliki fondasi sistem peringatan dini yang kuat melalui BMKG. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa data ilmiah tersebut diikuti oleh kebijakan tata ruang, kesiapsiagaan daerah, serta komunikasi krisis yang terintegrasi.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mendorong peningkatan sistem peringatan dini bencana oleh kementerian dan lembaga terkait, serta pentingnya pembaruan teknologi deteksi dini dan pemetaan kawasan permukiman yang berada di wilayah berisiko tinggi. Sinergi antar-lembaga dianggap sangat penting untuk meningkatkan kecepatan respons di lapangan, tidak hanya dalam penanganan pasca bencana, tetapi juga dalam pencegahan.
Menjelang akhir tahun, BMKG kembali mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. BMKG mengimbau agar pemerintah daerah menindaklanjuti peringatan tersebut secara serius untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat.




