Air dan Tradisi di Songgoriti: Menggali Makna Budaya Lokal
Kini News - Di tengah modernisasi dan pengembangan industri pariwisata, tradisi lokal di kawasan sumber air panas Songgoriti, Kota Batu, tetap hidup dan terjaga. Air di tempat ini tidak sekadar komoditas wisata, tetapi juga menjadi medium budaya yang menyimpan ingatan kolektif dan nilai-nilai spiritual masyarakat Jawa.
Awal Kejadian
Di Songgoriti, terdapat dua tradisi yang masih dilestarikan, yaitu nadah banyu dan ngumbah dandang. Meskipun tampak sederhana, kedua tradisi ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Tradisi nadah banyu melibatkan pengambilan air langsung dari sumber air panas di kawasan Candi Songgoriti, yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai air yang bersih dan sakral, berasal dari peninggalan leluhur.
Perkembangan
Air diambil dengan penuh kehati-hatian dan kesadaran spiritual, mencerminkan cara pandang masyarakat Jawa terhadap alam yang harus dihormati, bukan dieksploitasi. Tradisi ini menekankan pentingnya etika ekologis dalam konteks krisis lingkungan saat ini. Selain itu, tradisi ngumbah dandang dilakukan secara kolektif menjelang bulan Ramadan, di mana masyarakat, terutama perempuan, membawa peralatan dapur untuk dicuci bersama di sumber air. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan peralatan, tetapi juga dimaknai sebagai ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.




