Toleransi Antar Etnis Memperkuat Kerjasama di PTPN saat Imlek
(Foto: Dok. PalmCo)
Jakarta, HAISAWIT – Momentum Tahun Baru Imlek menjadi cermin nyata praktik toleransi di lingkungan kerja PT Perkebunan Nusantara (PTPN) melalui interaksi harmonis antarpekerja yang melampaui sekat perbedaan etnis maupun keyakinan agama.
Kehidupan sosial di bentang luas perkebunan sawit terbukti dinamis dan penuh warna dengan mengedepankan sikap saling menghormati. Para karyawan membangun relasi kekeluargaan yang kuat sebagai fondasi utama dalam menjalankan rutinitas operasional.
Salah satu potret penerimaan tersebut dirasakan oleh Akiong, seorang petugas panen keturunan Tionghoa di Afdeling III Kebun Lubuk Dalam, yang menemukan kenyamanan bekerja di tengah lingkungan dengan latar belakang mayoritas berbeda.
“Saya bangga bisa bekerja di sini. Walaupun saya satu-satunya etnis Tionghoa di Kebun Lubuk Dalam, saya tidak pernah merasa diperlakukan berbeda. Sejak awal bergabung, rekan-rekan menerima saya apa adanya,” ujar Akiong, dikutip dari laman PTPN4, Jum'at (20/02/2026).
Potret keberagaman lainnya datang dari Tony Lie, seorang Asisten Tata Usaha (ATU) di Kebun Kemitraan yang merupakan mualaf etnis Tionghoa, yang memandang identitas latar belakangnya bukan sebagai penghalang dalam membangun solidaritas.
“Saya Muslim dan saya Tionghoa. Itu bukan hal yang aneh. Saya menjalankan puasa, beribadah, dan tetap diterima sebagai bagian dari tim. Tidak ada jarak,” ujarnya dengan nada mantap saat menceritakan pengalaman kesehariannya.
Berikut adalah beberapa bentuk nyata praktik toleransi dan interaksi sosial yang terjadi secara alami di lapangan perkebunan:
Saling menjaga perasaan dengan menghormati ibadah rekan kerja saat memasuki bulan suci Ramadan atau hari besar keagamaan lainnya.
Tradisi berbagi makanan khas hari raya seperti kue keranjang kepada kolega di kantor sebagai simbol kehangatan silaturahmi.
Kolaborasi tim yang solid dalam menghadapi tantangan target produksi harian tanpa mempertentangkan latar belakang identitas masing-masing individu.
Solidaritas tersebut tumbuh melalui tindakan kecil yang konsisten seperti undangan silaturahmi tanpa sekat perbedaan saat perayaan hari raya. Lingkungan kebun kini menjadi ruang hidup yang menyatukan beragam perspektif dalam satu visi.
Tony Lie menilai bahwa profesionalisme dan integritas merupakan nilai utama yang harus dijunjung tinggi oleh setiap karyawan. Baginya, penyelesaian tanggung jawab pekerjaan menjadi prioritas yang menyatukan seluruh elemen tenaga kerja di lapangan.
“Pada akhirnya, semua kembali kepada tanggung jawab. Pekerjaan harus selesai, administrasi harus rapi. Perbedaan tidak mengurangi solidaritas,” ujarnya menekankan pentingnya kejujuran serta ketelitian dalam menjalankan setiap tugas administratif yang diberikan perusahaan.
Pekerja di lingkungan perkebunan menggantungkan roda kehidupan pada keberhasilan operasional perusahaan. Oleh karena itu, harmoni etnis yang dirawat bersama menjadi modal sosial penting untuk menjaga kestabilan masa depan keluarga para karyawan.
Nilai kebhinekaan di lapangan perkebunan tumbuh secara alami melalui empati dan kesadaran kolektif. Tahun Baru Imlek menjadi pengingat bahwa perbedaan adalah kenyataan hidup yang perlu dirawat guna mendukung pertumbuhan industri sawit nasional.***




