Temuan Arkeologi: Penggunaan Tinja Manusia dalam Pengobatan Romawi Kuno
Sumber Foto: Vietnam.vn
Lifestyle

Temuan Arkeologi: Penggunaan Tinja Manusia dalam Pengobatan Romawi Kuno

Sebuah studi arkeologi baru yang diterbitkan di Turki telah mengkonfirmasi bahwa orang Romawi kuno menggunakan tinja manusia dalam pengobatan, memberikan bukti kimia langsung pertama tentang praktik ini.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science Reports menunjukkan bahwa tim peneliti menganalisis sebuah guci kaca Romawi yang berusia sekitar 1.900 tahun, yang ditemukan di kota kuno Pergamon (sekarang Bergama, provinsi Izmir, Turki). Di dalam wadah tersebut, tim peneliti menemukan fragmen sedimen berwarna cokelat gelap.

Melalui analisis kromatografi gas-spektrometri massa, mereka menemukan keberadaan senyawa bioaktif yang khas dari sistem pencernaan, seperti koprostanol dan 24-etilkoprostanol, yang menunjukkan kemungkinan asal dari feses manusia.

Selain itu, spesimen tersebut mengandung senyawa dari tanaman timi, yang diyakini dapat menutupi bau dan membantu dalam penggunaan terapeutiknya.

Pergamon dulunya merupakan pusat medis utama Kekaisaran Romawi dan tempat kelahiran dokter terkenal Galen, yang memiliki pengaruh besar pada kedokteran Barat. Teks-teks kuno karya Hippocrates, Pliny the Elder, dan Galen semuanya menyebutkan penggunaan kotoran hewan, dan bahkan kotoran manusia, untuk mengobati infeksi, gangguan reproduksi, dan banyak penyakit lainnya.

Tim peneliti percaya bahwa temuan ini membuktikan bahwa penggunaan feses dalam pengobatan bukan hanya teori tetapi sebenarnya telah diterapkan dalam praktik. Pada zaman dahulu, batasan antara kosmetik, ritual, dan pengobatan cukup kabur, dengan banyak salep yang menggabungkan unsur penyembuhan dan perawatan tubuh.

Metode penggunaan feses dalam pengobatan telah ada hingga Abad Pertengahan dan secara bertahap digantikan pada abad ke-18 karena kekhawatiran tentang risiko infeksi. Saat ini, kedokteran modern masih meneliti metode transplantasi mikrobiota usus (transplantasi feses) dalam pengobatan penyakit tertentu, meskipun prosedur ini memerlukan pengawasan ketat.

Penemuan di Pergamon tidak hanya memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat kuno menangani penyakit, kebersihan, dan pengobatan, tetapi juga memberikan bukti fisik yang langka untuk praktik medis yang sebelumnya kontroversial.