Perkebunan Sawit Tingkatkan Penyerapan Karbon di Lahan Semak Belukar
Sumber Foto: Hai Sawit
Berita Terkini

Perkebunan Sawit Tingkatkan Penyerapan Karbon di Lahan Semak Belukar

Bogor, HAISAWIT – Perkebunan kelapa sawit terbukti secara ilmiah mampu memperkuat fungsi penyerapan karbon saat ditanam pada lahan dengan cadangan karbon rendah seperti ekosistem semak belukar di berbagai wilayah Indonesia.

Fenomena perubahan penggunaan lahan dari ekosistem stok karbon rendah menuju ekosistem stok karbon tinggi menciptakan kondisi penyerap karbon (carbon sink) yang berperan besar dalam upaya mitigasi pemanasan global saat ini.

Dilansir dari laman Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Sabtu (21/02/2026), emisi dari sektor penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan atau Land Use, Land Use Change and Forestry (LULUCF) global hanya menyumbang sekitar 12 persen.

Angka emisi LULUCF global tersebut mencapai 7,1 gigaton setara karbon dioksida (Gt CO2 eq) dari total emisi gas rumah kaca dunia yang menyentuh angka 58,8 gigaton setara karbon dioksida pada tahun 2019.

Data menunjukkan bahwa kontribusi emisi dari perubahan lahan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan oleh sektor energi fosil maupun sektor pertanian secara umum di tingkat internasional.

Perubahan stok karbon sangat menentukan apakah sebuah aktivitas penggunaan lahan akan menjadi sumber emisi (carbon source) atau justru menjadi penyerap emisi (carbon sink) yang sangat bermanfaat bagi lingkungan hidup.

Berikut adalah beberapa indikator teknis yang menentukan status penyerapan karbon pada ekosistem perkebunan kelapa sawit:

Volume stok karbon pada biomassa tanaman kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman semak belukar.

Kemampuan fotosintesis tanaman tahunan secara kontinu meningkatkan akumulasi karbon di dalam tanah.

Konversi lahan dari ekosistem stok rendah ke stok tinggi secara otomatis menurunkan konsentrasi karbon di atmosfer.

Tanaman kelapa sawit memiliki struktur perakaran dan tajuk yang jauh lebih kompleks sehingga mampu menyimpan cadangan karbon lebih banyak daripada tanaman kacang kedelai maupun tanaman semusim lainnya.

Isu mengenai perubahan penggunaan lahan tidak langsung atau Indirect Land Use Change (ILUC) sering kali menjadi perdebatan tanpa melihat data perbandingan stok karbon riil di lapangan secara objektif.

Definisi ILUC merujuk pada pergeseran produksi tanaman pangan akibat penanaman komoditas bahan bakar nabati yang dianggap memicu pembukaan lahan baru di area dengan stok karbon tinggi seperti hutan primer.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penempatan kebun sawit pada lahan terlantar justru memperbaiki siklus karbon karena tanaman ini berfungsi layaknya hutan tanaman dalam menyerap emisi karbon dioksida.

Upaya penurunan emisi gas rumah kaca global akan menjadi lebih efektif jika fokus dialihkan pada pengurangan penggunaan energi fosil daripada sekadar memperdebatkan aktivitas perubahan lahan yang skalanya relatif kecil.

Sektor energi fosil merupakan penyumbang emisi terbesar bagi atmosfer bumi.

Pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit merupakan solusi substitusi energi fosil yang ramah lingkungan.

Produktivitas sawit yang tinggi meminimalkan kebutuhan luasan lahan dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya.

Penerapan prinsip keberlanjutan dalam industri kelapa sawit memastikan bahwa setiap jengkal lahan yang dikelola memberikan kontribusi positif terhadap neraca karbon nasional serta mendukung pencapaian target iklim yang telah ditetapkan.

Data inventarisasi emisi menunjukkan bahwa integrasi perkebunan kelapa sawit pada lahan yang tepat menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekosistem sekaligus menyediakan kebutuhan energi hijau bagi masyarakat dunia secara luas.***