Peringatan Moody's: Kebijakan Prabowo Berisiko Hambat Pertumbuhan Ekonomi
Infobanknews
Nasional
Poin Penting
Penurunan outlook dari stabil ke negatif dinilai Celios sebagai peringatan terhadap arah kebijakan pemerintah
Meski ekonomi 2025 tumbuh 5,11 persen, kebijakan seperti pengambilalihan 28 izin perusahaan ke Danantara dan proyek MBG beranggaran besar dinilai berpotensi menghambat pertumbuhan 2026
Jika rating kembali turun (mendekati Baa3), risiko kenaikan tajam suku bunga utang dan tekanan berat pada rupiah meningkat—tercermin dari IHSG yang anjlok 2,31 persen
Jakarta – Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut penurunan outlook Moodys dari stabil ke negatif menjadi peringatan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto
Kata Bhima, meski mencatat pertumbuhan ekonomi 5,11 persen pada 2025, risiko kebijakan bisa membuat hambatan pertumbuhan pada 2026. Salah satunya adalah pengambilalihan 28 izin perusahaan ke Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang dimaknai sebagai nasionalisasi aset swasta.
“Berbagai kebijakan yang dikomunikasikan secara prematur, termasuk rencana pelebaran defisit anggaran, menimbulkan kekhawatiran disiplin fiskal,” ucap Bhima dalam keterangannya dikutip, 6 Februari 2026.
Baca juga: Moody’s Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif
Menurutnya, setiap ada wacana melakukan revisi UU Keuangan Negara 2003 dengan mengganti batas defisit 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), juga menimbulkan penolakan dari sisi investor.
Kemudian, dari pengelolaan fiskal lain yang disoroti adalah proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran jumbo tapi implementasi masih banyak catatan.
“Penerimaan pajak sedang turun disertai efisiensi anggaran yang berdampak ke daerah, sebaiknya MBG dievaluasi total. Jangan memaksakan MBG,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Bhima menyebut peringatan Moodys harus menjadi catatan perbaikan, jika rating Moodys kembali diturunkan akan berakibat pada kenaikan suku bunga utang yang tajam dan membebani nilai tukar rupiah.
“Sebelumnya banyak ekonom sudah memperingatkan, mungkin sekarang lembaga pemeringkat yang ingatkan baru ada perubahan. Jangan sampai rating Moody’s turun jadi Baa3, bisa naik tajam suku bunga utang dan beban berat ke rupiah,” ujar Bhima.
Baca juga: Indonesia Bak “Macan Pincang”: Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen, tapi Moody’s “Menampar” dengan Rating Negatif
Efek dari rating Moody’s sudah terasa. Pada awal perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka merah pada level 7.916,44 atau merosot 2,31 persen dari posisi 8.103,87.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga melemah pada awal perdagangan hari ini yang dibuka pada level Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp16.842 per dolar AS. (*)
Editor: Galih Pratama
Tags: Celios ekonomi Rating Moody's
Previous Post
KAI Daop 6 Yogyakarta Pastikan Perjalanan Kereta Api Aman Pasca Gempa
Next Post
MINA Bantah Terlibat Kasus Dugaan Saham Gorengan
Related Posts
News Update
Bank BPD Bali Sudah Setor Dividen Rp826 Miliar ke Pemda
February 21, 2026
Tips & Trick
Rekomendasi 5 Aplikasi Nabung Emas yang Aman dan Praktis
February 21, 2026
Ekonomi dan Bisnis
Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Begini Respons Pemerintah
February 21, 2026
Info Anda
Investasi Reksa Dana BNI AM Kini Bisa Dibeli di Kantor Cabang KB Bank
February 21, 2026




