Lucid Blocks: Game Voxel Horor Psikologis Siap Rilis dengan Crafting Bebas
Sumber Foto: Pikiran Rakyat Jatim
Lifestyle

Lucid Blocks: Game Voxel Horor Psikologis Siap Rilis dengan Crafting Bebas

PR JATIM - Dunia game independen kembali diramaikan kehadiran judul baru yang berani keluar dari pakem. Bukan sekadar sandbox voxel biasa, Lucid Blocks hadir membawa teror psikologis dalam balutan dunia terbuka surealis. Game ini dijadwalkan rilis 13 Maret 2026 untuk PC melalui Steam.

Menariknya, di balik proyek ambisius ini berdiri satu nama: Eric Alfaro, mahasiswa ilmu komputer berusia 20 tahun. Dari proyek eksperimen mesin voxel sederhana, karyanya berkembang menjadi game penuh dengan identitas visual dan atmosfer yang berbeda dari kebanyakan game balok.

Sandbox yang Tidak Ramah Anak-anak

Jika selama ini publik mengenal game voxel identik dengan kreativitas santai ala Minecraft, maka Lucid Blocks justru bergerak ke arah sebaliknya. Dunia yang dibangun bukan tempat nyaman untuk bertahan hidup, melainkan lanskap liminal yang terasa seperti mimpi buruk.

Lingkungannya digambarkan surealis, etereal, dan dihasilkan secara prosedural tanpa batas, baik vertikal maupun horizontal. Kota plastik, padang rumput sunyi, hingga gudang terbengkalai menjadi latar eksplorasi yang tidak sekadar estetis, tetapi juga mengganggu secara psikologis.

Atmosfer gelapnya disebut-sebut mengingatkan pada pendekatan horor psikologis seperti Silent Hill atau nuansa muram Bloodborne—namun dalam wujud balok-balok voxel.

Musuh yang Menyamar Jadi Lingkungan

Di balik visualnya yang terlihat sederhana, ancaman di Lucid Blocks tidak bisa dianggap remeh. Pemain akan berhadapan dengan manekin hidup, gel lengket, makhluk dimensi tinggi, hingga laba-laba raksasa yang bisa menyamar menjadi balok di sekitar.

Ancaman ini memaksa pemain lebih waspada. Dunia tidak selalu seperti yang terlihat. Bahkan dinding atau lantai tempat berpijak bisa berubah menjadi predator.

Untuk bertahan hidup, tersedia berbagai peralatan unik: grappling hooks, bee gliders, bom, tongkat bola, bilah, hingga “haze hands”. Bukan sekadar alat tempur, item-item ini juga memperkuat eksplorasi vertikal dan mobilitas di dunia tak terbatas.

Crafting Tanpa Resep: Sistem ‘Apotheosis’

Salah satu inovasi yang menjadi pembeda adalah sistem crafting bernama “apotheosis”. Tidak ada resep baku. Pemain dapat menggabungkan item apa pun secara bebas.

Pendekatan ini memotong pola progresi tradisional dan menggantinya dengan eksperimen murni. Kreativitas tidak dibatasi buku resep atau jalur level tertentu. Dalam mode sandbox, puluhan jenis balok dengan pencahayaan dinamis memungkinkan pemain membangun struktur unik dan membagikannya dengan komunitas.

Konsep ini mempertegas bahwa Lucid Blocks bukan sekadar game survival, melainkan laboratorium psikologis yang interaktif.

Dibangun dengan Godot 4.5

Secara teknis, game ini dikembangkan menggunakan mesin Godot versi 4.5 dengan kombinasi C++ dan GDscript. Awalnya hanya eksperimen untuk menguji kemampuan voxel engine Godot, namun skalanya berkembang menjadi proyek penuh yang kini siap meluncur di Steam.

Spesifikasi minimumnya relatif ringan:

Optimasi ini membuatnya tidak menuntut GPU kelas gaming tinggi strategi yang membuka peluang menjangkau lebih banyak pemain PC kelas menengah.

Sebelumnya, sesi playtest sempat digelar 5 September 2025 melalui Steam. Saat ini, Lucid Blocks sudah bisa dimasukkan ke wishlist menjelang rilis resmi.

Di tengah dominasi studio besar, kehadiran Lucid Blocks menjadi sinyal bahwa pengembang indie masih mampu menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya dari sisi gameplay, tetapi juga atmosfer dan identitas.