JPMorgan Prediksi Bursa Saham Indonesia Cerah di 2026
JAKARTA - Gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) berkapitalisasi besar pada paruh kedua 2025, yang dipimpin oleh Superbank dan Merdeka Gold Resources, berpotensi menghidupkan kembali pasar saham Indonesia setelah setahun diliputi volatilitas.
Aksi korporasi tersebut dinilai mampu memulihkan likuiditas sekaligus meningkatkan selera risiko investor, terutama di pasar yang lebih dari separuh aktivitas perdagangannya didominasi investor ritel.
Analis memperkirakan IPO perusahaan besar, khususnya yang didukung konglomerasi, akan tetap menjadi pendorong utama optimisme pasar, meskipun ketidakpastian makroekonomi dan politik masih membayangi.
Amit Singh, Partner dan Head of South and South-east Asia Capital Markets di Linklaters Singapura, menyebutkan bahwa perusahaan independen di luar grup konglomerasi menghadapi tantangan lebih besar dalam meningkatkan skala usaha dan membangun kredibilitas pasar.
Seperti dikutip businesstimes.com, sebaliknya perusahaan yang didukung konglomerat diuntungkan oleh akses pembiayaan yang lebih kuat, sinergi bisnis, serta dukungan reputasi.
Menurutnya, perusahaan sumber daya alam dan infrastruktur, beserta sektor-sektor turunannya, masih akan memimpin gelombang IPO berikutnya di Indonesia, disusul oleh sektor keuangan dan layanan konsumen.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sekitar 13 perusahaan berada dalam antrean IPO tahun depan, mencakup sektor energi, keuangan, transportasi, hingga logistik.
Hingga 17 Desember 2025, Indonesia telah membukukan 26 IPO dengan total dana terhimpun lebih dari Rp17 triliun. Angka ini lebih sedikit dibandingkan 41 IPO pada 2024, namun nilai penghimpunan dana lebih besar, mencerminkan pergeseran ke arah IPO bernilai tinggi.
Tay Hwee Ling, Capital Markets Services Leader Deloitte Asia Tenggara, menuturkan bahwa IPO Indonesia pada 2025 didominasi sektor industri, energi, konsumer, dan kesehatan.
Investor cenderung memilih perusahaan dengan fundamental kuat, prospek jangka panjang, serta dukungan pemerintah.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 12 bulan terakhir menunjukkan dinamika tajam. Setelah anjlok pada Maret 2025 akibat aversi risiko global, tekanan nilai tukar, dan transisi politik domestik, IHSG bangkit dan menembus rekor di atas level 8.700 pada awal Desember.
Secara tahunan, IHSG menguat sekitar 22% dan menjadi salah satu kinerja terbaik di Asia, hanya kalah dari Vietnam dan Singapura.
Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan struktural partisipasi investor ritel sejak pandemi Covid-19. Jumlah investor pasar modal melonjak dari 2,5 juta pada 2019 menjadi 19,2 juta per Oktober 2025.
Investor ritel menguasai 58% rata-rata nilai transaksi harian pada Oktober, tertinggi sejak 2021, didukung lonjakan perdagangan saham konglomerasi dengan free float rendah yang dikaitkan dengan spekulasi masuknya ke indeks MSCI.
Nilai transaksi harian ritel bahkan mencetak rekor Rp14,5 triliun pada Oktober, melampaui puncak era pandemi. Fenomena ini paling terlihat saat IPO, di mana sejumlah perusahaan “lighthouse” mencatat kelebihan permintaan (oversubscription) sangat tinggi meski pasar bergejolak.
IPO PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang didukung entitas terkait taipan Prajogo Pangestu, mencatat oversubscription luar biasa hingga 563 kali pada IPO senilai Rp2,4 triliun. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), yang didukung Garibaldi “Boy” Thohir, juga mencuri perhatian dengan IPO Rp4,66 triliun yang kelebihan permintaan 148 kali.
Sementara itu, IPO PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) yang didukung Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) mengalami oversubscription 318 kali.
Meski prospek ekonomi Indonesia masih dibayangi lemahnya konsumsi rumah tangga, tantangan perdagangan global, serta ketidakpastian politik pasca transisi kepemimpinan, pelaku pasar menilai kondisi makro tidak selalu menghambat aktivitas IPO.
Menurut Singh, IPO tetap dapat tumbuh bahkan di tengah tekanan, selama perusahaan mampu meyakinkan investor dengan cerita pertumbuhan yang kuat.
JPMorgan memproyeksikan prospek pasar saham Indonesia yang lebih cerah pada 2026, didukung peningkatan belanja pemerintah, peran Danantara sebagai sovereign wealth fund, serta membaiknya kondisi global.
Bank tersebut menargetkan IHSG di level 9.100 pada akhir 2026, dengan asumsi pertumbuhan laba 8 persen. Target optimistis dan pesimistis masing-masing berada di 10.000 dan 7.800, dengan volatilitas rupiah sebagai risiko utama.
Sektor pilihan JPMorgan meliputi industri, material, barang konsumsi primer dan non-primer, serta properti. Konglomerasi seperti Elang Mahkota Teknologi dinilai memiliki banyak katalis pertumbuhan, termasuk potensi IPO platform streaming Vidio setelah suksesnya IPO Superbank.
Oktavianus Audi, Vice President Equity Retail Kiwoom Sekuritas, menambahkan bahwa penurunan suku bunga, membaiknya likuiditas, dan stabilitas makro relatif akan mendukung permintaan IPO.
Keberhasilan IPO ke depan, menurutnya, tetap bertumpu pada dukungan konglomerat besar dan narasi pertumbuhan yang kredibel, terutama di sektor energi, logam, dan kendaraan listrik.




