IHSG Turun 1,04% ke 8.235 Tertekan Kebijakan Tarif Impor AS
Sumber Foto: Katadata.co.id
Ekonomi

IHSG Turun 1,04% ke 8.235 Tertekan Kebijakan Tarif Impor AS

Kini News - Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,04 % ke 8.235, dengan intraday sempat turun hingga 2,14 % ke 8.144; nilai transaksi hari itu mencapai Rp 28,14 triliun dengan volume 56,52 miliar saham.

Sentimen negatif muncul setelah US Department of Commerce mengumumkan tarif impor sel dan panel surya: 125,87 % untuk India, 104,38 % untuk Indonesia, dan 80,67 % untuk Laos, serta tarif khusus 143,3 % untuk PT Blue Sky Solar dan 85,99 % untuk PT REC Solar; USTR juga rencanakan penyelidikan Pasal 301 terkait subsidi perikanan Indonesia.

Seluruh sebelas sektor di BEI anjlok, dengan transportasi turun paling tajam 4,54 %; di antara saham, PT Bakrie & Brother, PT Indo Boga Sukses, dan PT MNC Sky Vision menjadi top gainers, sementara PT Bukit Uluwatu Villa, PT Minna Padi Investasi Sekuritas, dan PT Sanurhasta Mitra tercatat sebagai top losers.

! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan Kamis (26/2) ini ditutup melemah 1,04% ke 8.235. Bahkan, pada perdagangan intraday pukul 14.27 WIB, indeks sempat merosot hingga 2,14% ke level 8.144.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham sore ini sebesar Rp 28,14 triliun dengan volume 56,52 miliar saham dan frekuensi sebanyak 3,14 juta kali. Sebanyak 146 saham menguat, 568 saham terkoreksi, dan 105 saham stagnan. Adapun kapitalisasi pasar IHSG hari ini sebesar Rp 14.773 triliun.

Phintraco Sekuritas menilai sentimen negatif pasar muncul setelah United States Department of Commerce (Departemen Perdagangan AS) mengumumkan rencana pemberlakuan tarif terhadap sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan di India, Indonesia, dan Laos.

Kebijakan tersebut diambil AS karena diduga industri panel surya di ketiga negara mendapat perlindungan subsidi. Dalam kebijakan itu, Amerika Serikat menetapkan tarif sebesar 125,87% untuk produk dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos.

Selain tarif umum, pemerintah AS juga menghitung tarif khusus untuk perusahaan tertentu, di mana PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%.

Di sisi lain, United States Trade Representative (USTR) juga berencana membuka penyelidikan berdasarkan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia, khususnya terkait kapasitas industri dan subsidi di sektor perikanan.

Hasil penyelidikan tersebut nantinya akan dibandingkan dengan langkah-langkah yang diambil Indonesia untuk menjawab kekhawatiran AS sebelum USTR menentukan bentuk kebijakan atau tarif yang akan diberlakukan.

“AS juga berencana menaikkan tarif bagi sejumlah negara dari level 10% menjadi 15% atau lebih tinggi,” ucap Phintraco analisisnya, Kamis (26/2).

Di samping itu, dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruhnya anjlok. Sektor yang mencatat penurunan terbesar yakni transportasi yang tergelincir 4,54%. Adapun saham di sektor tersebut yang berada di zona merah antara lain PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) jatuh 1,19% ke Rp 83 per saham.

Di sisi lain, bursa saham Asia didominasi di zona merah. Indeks Shanghai Composite tergelincir 0,01%, Hang Seng turun 1,44%, dan Straits Times tergelincir 0,87%. Sebaliknya Nikkei tumbuh 0,29%.

PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) naik 9,52% ke Rp 161.

PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) naik 9,58% ke Rp 183.

PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) naik 34,62% ke Rp 105.