GBOB: Inovasi Kuliner Mille Crepe yang Memikat Pasar
Sumber Foto: SWA.co.id
Lifestyle

GBOB: Inovasi Kuliner Mille Crepe yang Memikat Pasar

Dari luar, rumah di Semarang itu tampak biasa. Tidak ada papan nama besar, tidak ada antrean permanen di depan pagar. Tapi justru dari dapur kecil di sanalah — di ruang yang awalnya hanya cukup untuk memasak kebutuhan keluarga — Narista Hestarini membangun sebuah usaha kuliner yang kini sanggup menembus omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Celah akses

Perjalanan itu dimulai pada 2019, ketika ia merintis Gbob Snack and Catering bersama ketiga anaknya. Pandemi kemudian datang dan mengubah ritme banyak orang. Di saat banyak sektor usaha mendadak terpukul, Narista memilih satu langkah yang terdengar sederhana: mencari celah agar tetap bertahan. Ia dan anak-anaknya mencoba membuat mille crepe, dessert yang kala itu sedang ramai dibicarakan dan diburu.

Respons pasar datang lebih cepat dari dugaan. Mille crepe buatan mereka disukai, pesanan terus berdatangan. Namun ketika kebutuhan produksi meningkat, tantangan lain muncul: modal. Ia belum memiliki kesiapan untuk mengakses pembiayaan perbankan, sementara kebutuhan alat, ruang, dan sistem kerja makin nyata.

Dari titik itulah pendampingan Jamkrindo masuk. Melalui Program Kemitraan Jamkrindo, Narista memperoleh pinjaman awal Rp20 juta. Dana itu tidak dipakai untuk “memperindah” usaha, melainkan untuk hal yang paling mendasar: membongkar dapur dan membeli peralatan yang dibutuhkan agar kapasitas produksi bisa naik kelas. Dapur yang semula sekadar ruang masak rumahan berubah menjadi ruang kerja yang lebih memungkinkan eksperime, dan lebih siap menerima lonjakan pesanan.

Di awal, Narista tidak sedang menyusun peta jalan bisnis lima tahun. Yang ia lakukan adalah menguji rasa, tekstur, dan konsistensi. Ia membuat mille crepe berkali-kali, mencari komposisi yang pas.

Dari proses itu, ia menemukan sebuah realitas pasar yang menarik: mille crepe identik dengan barang premium. Harganya relatif tinggi dan lebih sering dinikmati kalangan menengah atas. Ia melihat celah di situ: bukan celah rasa, melainkan celah akses.

Naluri bisnisnya bekerja lewat pertanyaan yang terdengar sangat membumi. “Saya berpikir, kenapa orang menengah ke bawah tidak bisa merasakan kue enak dengan harga terjangkau?” ujarnya ketika ditemui SWA.co.id di Semarang, Rabu (11/2/2026).

Konsistensi rasa

Pertanyaan itu kemudian diterjemahkan menjadi keputusan produk yang konkret. Ia menjual mille crepe dalam bentuk potongan (slice), bukan ukuran besar seperti yang umum di pasaran, dengan harga Rp20.000–Rp23.000 per potong. Strategi ini sederhana namun efektif: produk tetap terasa spesial, tetapi lebih ramah di kantong dan lebih mudah dibeli impulsif — sekali coba, lalu ulang.

Ketika rasa sudah menemukan pola, Narista dan anak-anaknya menambah satu lapisan penting lain: keterampilan. Demi bisa menciptakan mille crepe dengan rasa yang pas, putrinya yang saat itu masih duduk di kelas dua SMA mengikuti kursus privat dengan chef spesialis mille crepe. Biayanya Rp2 juta untuk kursus tiga hari, tetapi dijalankan secara intens dalam satu hari penuh dari pagi hingga malam. Bagi Narista, ini bukan biaya, melainkan investasi: fondasi bagi konsistensi yang akan menjadi mesin utama penjualan.

Lalu datang fase yang sering menjadi penentu: apakah pelanggan hanya membeli sekali karena penasaran, atau kembali karena percaya.

Dari konsistensi rasa itulah pelanggan yang puas membeli ulang, lalu merekomendasikan kepada teman dan keluarga. Ulasan positif bermunculan secara organik di media sosial. Sampai akhirnya, sebuah unggahan di Twitter tentang mille crepe enak dan murah di kawasan Alun-Alun Kauman mendadak viral.

"Antreanya sampai mengular, produksinya dari 30 loyang jadi 50 loyang," kata Narista.

Inovasi

Viral memang bisa jadi berkah. Tetapi juga ujian. Banyak bisnis kuliner meledak karena tren, lalu redup ketika gelombang bergeser.

Narista tidak menunggu gelombang itu memukul. Ia memperlakukan tren seperti jam pasir: indah, tetapi waktunya terbatas. Ia mengamati pola bahwa tren biasanya mulai menurun dalam tiga bulan. "Jadi sebelum turun trennya, kami harus sudah punya produk baru," ungkapnya.

Cara mereka membaca tren juga tidak sepenuhnya mengandalkan insting lokal. Narista dan anak-anaknya memantau pasar Thailand, Singapura, hingga Malaysia. Jika sebuah produk mulai booming di sana, mereka segera melakukan riset dan uji coba.

Dari kebiasaan memindai tren itu lahir varian demi varian: cheesecake, mochi dengan lima rasa, cromboloni, hingga yang terbaru Dubai Chewy Cookies. Kini, Gbob memiliki lebih dari 50 varian produk — sebuah angka yang memperlihatkan ritme inovasi yang tidak main-main untuk ukuran UMKM kuliner.

Penguatan kapasitas

Ia mengakui, pertumbuhan bisnisnya tidak berdiri sendirian. Pendampingan Jamkrindo menjadi bagian penting dari proses naik kelas itu, terutama lewat pelatihan manajemen usaha, pengelolaan produksi, keamanan pangan, hingga penguatan konten media sosial. Ini adalah sederet hal yang sering menentukan apakah bisnis bisa tumbuh rapi atau hanya tumbuh cepat.

Hari ini, Gbob bukan lagi sekadar dapur rumahan. Usaha Narista telah berkembang dengan 11 karyawan dan dua outlet: Angkringane GBOB di Food Court Muladi Dome Undip Tembalang dan kafe a’Gbob di Mranggen, Semarang.

Penjualan offline berjalan, tetapi kanal digital juga mengalirkan permintaan lewat Instagram dan platform pesan-antar seperti ShopeeFood. Dengan arus penjualan tersebut, ia mengatakan, perharinya ia bisa mengantongi omset rata-rata Rp 5 juta rupiah.

Pada momen tertentu seperti Natal atau Ramadan, penjualan meningkat hingga 70%. Selain mille crepe, lini kue kering untuk korporasi — termasuk bank dan instansi pemerintah — menjadi salah satu kontribusi terbesar.

Di tengah ekspansi itu, Narista tetap menjaga satu pegangan: mempertahankan daya tarik produk yang sempat meledak, sembari membangun lini yang membuat usaha lebih tahan musim. "Tahun ini, fokus kami adalah mempertahankan produk viral sekaligus memperkuat lini pendamping seperti frozen food, pastel, sus, hingga inovasi egg tart serta camilan kering seperti cheese stick dan onde-onde ketawa versi kekinian," jelasnya.

Apa yang terjadi pada Narista sering dianggap sebagai kisah “beruntung karena viral”. Padahal jika ditarik mundur, ada rangkaian keputusan yang sangat terukur: menurunkan harga lewat format slice, menjaga konsistensi lewat investasi keterampilan, membaca tren secara regional, serta membangun sistem usaha melalui pendampingan. Di sinilah Jamkrindo melihat poin yang lebih besar dari sekadar satu UMKM kuliner.

Pada kesempatan yang berbeda, Plt Direktur Utama Jamkrindo Abdul Bari menyampaikan bahwa Jamkrindo meyakini penguatan UMKM-K harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui penjaminan, tetapi juga melalui pendampingan dan penguatan kapasitas usaha.

“Kisah Narista menunjukkan bahwa ketika UMKM-K didukung sejak fase awal, mereka dapat tumbuh sehat, naik kelas, dan pada akhirnya mampu mengakses pembiayaan formal secara berkelanjutan,” tutur Abdul Bari.

Dan mungkin, di antara banyak resep yang diuji di dapur kecil Semarang itu, resep terpenting bukan hanya soal mille crepe. Melainkan cara melihat pasar, cara membaca perubahan, serta inovasi tanpa henti untuk membuat sesuatu yang enak dan diterima pasar. (*)