Keluarga John Tobing Bangga Lagu 'Darah Juang' Jadi Simbol Perlawanan
Kini News - Jogja -
Lagu 'Darah Juang' karya mendiang Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing dikenal luas sebagai lagu perlawanan. Pihak keluarganya pun mengaku bangga atas hal itu dan menyatakan lagu tersebut memang dibuat untuk bangsa Indonesia.
Hal itu disampaikan putra bungsu John, Gopas Kibar Syang Proudy (18). Dia bilang, sebelum berpulang, ayahnya berpesan bahwa lagu 'Darah Juang' adalah milik bangsa.
"Harapan saya sih ya, semoga ya sesuai dengan yang bapak harapkan juga, bahwa 'Darah Juang' ini untuk bangsa, memang untuk bangsa, dan kalaupun dinyanyikan di mana pun, bapak malah senang," ujar dia saat ditemui di rumah duka Bethesda, Kamis (26/2/2026).
"Tidak perlu hak cipta segala macam, karena dia ingin lagunya dikenal di seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, karena itu doang harapan dia. Lagunya dikenal dan dia juga mempunyai karya yang membekas," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, John Tobing meninggal dunia di usia 59 tahun pada Rabu (25/2) malam. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka Bethesda dan akan dimakamkan Sabtu (28/2) mendatang di TPU Madurejo, Prambanan, Sleman.
"Hari ini nanti jam 18.30 penghiburan gereja, besok juga sama jam 18.30 malem," kata Gopas.
"Dan ada (prosesi) adat Matonggo Raja, adat itu untuk persiapan hari Sabtunya. Kalau pemberangkatannya (ke pemakaman) itu ada (prosesi) kebaktian," sambungnya.
Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatan John mulai menurun sehingga harus dirawat di rumah sakit sejak November 2025. Semenjak saat itu, John pun harus bolak-balik rumah sakit untuk mendapat perawatan.
"(Masuk rumah sakit) semenjak 29 November (2025), balik ke rumah 28 Januari (2026). Terus masuk lagi itu awal Februari, tanggal 8 Februari masuk lagi di Hermina, semingguan di Hermina, terus sudah balik lagi ke rumah," ucap Gopas.
John pun harus kembali ke rumah sakit pada Rabu (25/2) dini hari dan langsung masuk ke ruang ICU akibat penurunan kesadaran.
"Terus barulah hari Rabu ini dini hari, minggu ini, masuk lagi karena penurunan kesadaran itu. Awalnya saya ke Rumah Sakit Hermina, cuma karena belum tercover BPJS karena terakhir dirawat di Hermina, kemudian dibawa ke RSA UGM lagi," paparnya.
Hingga pada Rabu malam, John tiba-tiba mengalami henti jantung. Ia meninggal dunia di ruang ICU tanpa didampingi keluarganya. Gopas bilang, keluarga sangat terpukul akan kepergian John yang mendadak ini.
"Ini mendadak sih, sebetulnya. Memang kami dari keluarga itu pas sedang di rumah memang, karena di rumah sakit itu dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu," ungkap Gopas.
"Dan juga malam itu, jam 20.45 ditelepon pihak keluarga, terus katanya memang Bapak henti jantung dan memang tidak kembali berdetak lagi, dan akhirnya kami semua langsung datang ke rumah sakit sih. Memang kami belum cukup siap juga sebetulnya karena dadakan itu kan," pungkasnya.




